Tuesday, December 4, 2018

Hidup Bahagia ala Stoic



Orang-orang Stoic percaya bahwa emosi negatif yang menghancurkan manusia berasal dari keputusan yang salah. Hal-hal tersebut dapat merusak kebahagiaan seperti marah berlebihan, panik berlebihan, sedih berlebihan, dan sebagainya. Filosofi ini berkembang di abad 3 SM sampai 3M dengan sejumlah tokoh di baliknya seperti Seneca, Epictetus dan Marcus Aurelius. Stoic mengajarkan hal yang sederhana, yaitu bagaimana kita bisa tahan banting dari segala bentuk gempuran permasalahan hidup. Stoic menekankan pada keteguhan mental baik di saat senang maupun sedih.

Secara umum, ada 4 ajaran inti Stoic:
1. Tidak ada kejadian yang baik atau buruk, yang memberikan makna adalah persepsi kita terhadap hal tersebut.
Tidak percaya? Bayangkan, kita dipecat dari pekerjaan. Sedih? Iya, sudah pasti. Coba bayangkan kejadian yang sama, namun setelah kita dipecat, kita baru tahu bahwa kantor kita terlibat korupsi yang menyeret hampir semua staf di sana. Sedih? Tentu saja tidak, justru merasa lega.

Dari contoh di atas, sudah jelas bahwa "dipecat" tidak membuat kita sedih, yang membuat kita sedih adalah apa yang kamu pikirkan dari kejadian tersebut. Pikiran kita memberikan makna setiap kejadian yang ada dalam hidupmu. Orang Stoic berkata, "Tidak ada kejadian baik atau buruk, yang ada hanyalah persepsi."


2. Kontrol apa yang kita bisa, lepaskan apa yang tidak bisa.
Kita terbiasa menghabiskan waktu untuk mengeluh pada hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Ajaran utama dari orang Stoic adalah bertanya kepada diri sendiri, "Apa yang bisa dilakukan dari kejadian ini?" Jika kita bisa melakukan sesuatu, lakukanlah. Jika tidak bisa, lepaskanlah.

Kecemasan tidak akan membawa hal baik dalam hidupmu. Orang Stoic menekankan pentingnya untuk membedakan apa yang bisa dan tidak bisa kita ubah. Bukan hanya membuat diri kita lebih bahagia, tetapi juga membuat kita lebih fokus dalam mengerahkan semua energi kita untuk hal-hal yang lebih produktif.


3. Terimalah segala sesuatu, tetapi jangan pasif.
Banyak orang menyalahartikan menerima dengan menyerah. Sehingga, sangat sulit bagi kita untuk menerima. Apa yang terjadi apabila kita tidak menerima? Kita cenderung menolak. Hidup dalam penolakan sangat menderita. Padahal, menerima kenyataan bukan berarti kita pasif.

Orang Stoic berkata, "Jangan menghabiskan energi kita pada hal-hal yang berada di luar kendali kita, mari menerima kenyataan, bergerak maju, dan lakukan apa yang kita bisa."



4. Lakukan ritual berupa doa pagi dan doa malam.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa doa dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang. Jadi, apa yang orang Stoic sarankan? Doa pagi dan malam hari. Doa pagi untuk mempersiapkan dirimu menjalani hari, sedangkan doa malam untuk merefleksikan harimu dan mencari tahu apa yang bisa ditingkatkan.


* * *


Belakangan, sejumlah orang mulai menghidupkan lagi filosofi ini. Salah satu yang terkenal adalah memaknai Stoic dengan "negative visualitation".

Tidak bisa kita pungkiri selama ini kita selalu diajarkan untuk positive thinking. Tetapi sadarkah kita bahwa positive thinking yang berlebihan justru berbahaya? Salah satunya adalah kita tidak siap kalau sewaktu-waktu kita tidak mencapai kondisi yang positif.

Untuk itu, Stoic mengajarkan kita untuk melihat sesuatu dari sisi negatif. Tujuannya bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk mempersiapkan kita kalau memang suatu saat 'the worst' terjadi dalam hidup kita.

Salah satu contoh negative visualitation adalah membayangkan suatu pagi kita terbangun dengan tangan kanan kita tidak berfungsi. Kemudian kita menghidupi kondisi tersebut dengan melakukan aktivitas sepanjang pagi tanpa menggunakan tangan kanan seolah itu tidak berfungsi. Dari bangun-ke kamar mandi-sikat gigi-mandi-berpakaian-dstnya.

Selain membayangkan hal-hal fisik, kita juga bisa membayangkan suatu hari kita akan pensiun, akan kehilangan pekerjaan, akan kehilangan kekuatan, termasuk juga kehilangan orang-orang sekitar kita.


Apa efek yang didapatkan dari negative visualitation ini:
1. Kita menjadi lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.
2. Kita siap kalau suatu saat kondisi terburuk itu terjadi
3. Kita jadi kuat dalam menghadapi hidup beserta segala problemanya
4. Kita seperti divaksin sehingga timbul amunisi untuk kuat menghadapi kesulitan hidup



* * *



Orang Stoic tidak percaya dengan kesempurnaan. Bagi mereka, hidup adalah proses dan kita selalu bisa untuk menjadi lebih baik.


As long as you live, keep learning how to live. - Seneca, Stoic Philosopher.

#TraningSDM
#Stoicism
#TrainingKomunikasi
#PerbedaanAdalahKekuatan

Radio Talk: Buying Shopping Disorder - Heartline Network

Radio talk perdana di tahun 2020. Mengambil tema Buying Shopping Disorder, 'kecanduan' belanja yang patut kita waspadai, terutama ba...