Tuesday, March 27, 2018

Hukum Kekekalan Kebaikan




Kembali ke masa sekolah, mata pelajaran Fisika termasuk momok bagi saya. Entah kenapa rasanya susah sekali bagi saya untuk memahaminya. Tidak heran nilai Fisika di raport tidak pernah beranjak dari angka 7 (Ups... ini sebuah pengakuan hehehe). Namun demikian, ada satu hukum yang sampai sekarang nyantol di pikiran saya, dan saya pikir itu juga nyantol di pikiran teman-teman. Yups. Hukum Kekekalan Energi (HKE).

Secara sederhana HKE mengatakan bahwa jumlah energi dari sebuah sistem tertutup itu tidak berubah, ia akan tetap sama. Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan oleh manusia, namun ia dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Jumlah energi yang dikeluarkan adalah sama dengan jumlah energi yang dihasilkan. Perubahan bentuk suatu energi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain tidaklah mengubah jumlah energi secara keseluruhan.

Contohnya kita berteriak. HKE mengatakan energi teriakan yang dikeluarkan tidaklah hilang begitu saja, tetapi dia bertransformasi bentuk menjadi bunyi. Jika kita mengukur jumlah energi yang dikeluarkan untuk berteriak, maka hasilnya adalah sama dengan jumlah energi bunyi yang dihasilkan. Kejadian yang sama juga berlaku pada perubahan energi batu baterai menjadi terang sinar senter, tenaga drummer menggebuk drum setara dengan kencangnya bunyi drum yang dihasilkan, serta jumlah bensin yang dihabiskan sama dengan jarak tempuh sebuah kendaraan.

Kalau di dunia Fisika ada HKE, secara paralel di dalam hidup juga berlaku sebuah hukum kehidupan yang saya namakan Hukum Kekekalan Kebaikan [HKK]. Prinsip antara HKK dan HKE adalah sama. Proses kerjanya juga sama. Yang membedakannya adalah konteks dan waktunya.

Konteks HKE mengatakan bahwa kebaikan yang pernah kita lakukan tidak akan hilang begitu saja. Kalau kita berbuat baik pada orang lain, maka kebaikan itu akan kembali kepada kita. HKE akrab dengan istilah Tabur-Tuai: apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Kalau kita menabur kebaikan, maka kebaikan jugalah yang akan kita tuai. Bahkan kadang jumlah yang kita tuai tidak sama dengan jumlah yang kita tabur, tetapi sering lebih alias berlimpah. Dan itulah kebaikan yang kekal.

Berbicara mengenai waktu, kalau di HKE perubahan energi terjadi seketika itu juga, maka di HKK kerap tidak terjadi secara instan. Jadi sangat jarang sekali, misalnya hari ini kita menolong orang lain, hari itu juga kita menerima buah dari kebaikan kita. Prosesnya sangat misterius dan kita tidak bisa menebak kapan itu terjadi. Kalau memang kita terima segera, bersyukurlah karena memang itu bagian kita. Tapi kalau memang belum waktunya, janganlah ngomel, kecewa, marah, trus akhirnya tidak mau berbuat kebaikan lagi. Semuanya berproses.

Secara ekstrim, kadang kita tidak menerima balasan atas kebaikan yang kita lakukan, bahkan sampai kita meninggal. Lantas ke mana hasil HKK? Apakah itu berarti teori HKK gugur? Jawabannya TIDAK. Lho kok bisa? Iya... karena kerap semua kebaikan kita justru dinikmati keturunan kita alias anak-cucu kita. Pernah alami kejadian seperti ini? Tidak ada angin yang berhembus, tiba-tiba datang kepada kepada kita orang yang berkata dulu kenal dan akrab sama ortu atau kakek kita, lantas mencurahkan kebaikan kepada kita begitu saja. Heran? Jangan, karena itulah Kekekalan Kebaikan :)

* * *

Kalau ada Hukum Kekekalan Kebaikan, berarti ada juga Hukum Kekekalan Kejahatan. Wow... jangan pernah deh melakukan yang satu itu. Makanya, hidup ini harus selalu dipenuhi dengan kebaikan, biar dunia ini semakin indah, cinta bertumbuh, dan kasih bersemai dengan subur. Setuju? Yaksip.

Saturday, March 24, 2018

Galeri Foto: Training "Effective Presentation Skill" - Bank Indonesia 240318

Mendapat kesempatan mendampingi tim Bank Indonesia dalam pelatihan Effective Presentation Skill adalah sebuah kehormatan. Senang bisa sharing ilmu dan pengalaman. Bertempat di Singhasari Resort Malang, semoga peserta mendapatkan bekal yang bisa langsung dipraktikkan di tempat kerja nanti. God bless!






Tuesday, March 13, 2018

Angkringan


Semester awal kuliah, 24 tahun yang silam, di kamar kostku yang hangat, ditemani alunan musik slowrock yang menjadi sahabat tidurku, teman sebelah mengetuk pintu.

"Hen, ikut yuk ..."

Kulirik jam weker mungil di samping kasur. 22.30. Sudah larut. "Mau ke mana malam-malam begini?"

"Pokoknya ikut saja, dijamin asyik. Buruan..."

Sejurus aku pun mengganti baju, rapi-rapi dikit, tak ketinggalan bawa dompet. Dengan langkah gontai, kami pun menelusuri sepi dan cerahnya jalan sepanjang depan kost hingga kami sampai ke sebuah gerobak dorong dengan penerangan lampu petromax. Di sana mangkal juga beberapa tukang becak sambil mengobrol, tentu dengan rokok terjepit dengan manisnya di jari masing-masing. Alunan musik dari sebuah radio usang dengan cerita wayang khas Jogja menambah nikmatnya suasana dan akrabnya kebersamaan mereka.

Termenung aku di depan gerobak tersebut. Tanpa buang waktu, tanganku ditarik temanku untuk duduk di pojok bangku. Tersaji di depan kami bungkusan-bungkusan daun pisang dibalut kertas koran, aneka gorengan, sate burung puyuh dan usus, berbagai macam kerupuk, dan tidak ketinggalan teko minum dengan perapian arang.

Tempat apa ini? Demikian batinku bertanya-tanya. Sebelum kebingunganku bertambah, temanku pun berkata. "Ini namanya angkringan."

Ahaaa ... Aku pun mulai mengeksplorasi lingkungan. Kulirik bungkusan-bungkusan yang tersedia, mengambil satu, membukanya, dan ...

Astaga, batinku. Ternyata isinya segumpal nasi putih dengan seekor ikan teri dan secuil sambal merah. Aku lirik temanku, dia juga melakukan hal yang sama. Namun tidak ada kecanggungan sepertiku. Dengan santai dan cuek, disendoknya sebagian nasi, dicampur sedikit teri, serta di ulekin ke sambal, segumpal makanan itu meluncur dengan mulus masuk ke perutnya.

Melihat aku bengong, dia pun menyuruh aku melakukan hal yang sama. Dan, aku pun mencoba. Tahu gak rasanya? Nikmat sekali. Sekali coba akupun meludeskannya. Belum kenyang, aku pun ambil sebungkus lagi. Dibuka, kali ini lauknya beda. Kalau yang pertama teri campur sambal, kali ini segenggam tempe kering. Aku pun menghabisinya dengan penuh nafsu.

Puas dengan santapan pertamaku, giliran aneka gorengan menjadi sasaranku. Tempe, tahu, dan pisang goreng serta tidak ketinggalan kerupuk menjadi korban.

Aku haus ... dan secangkir teh manis hangat pun terseduh dengan manis di depanku. Kusruput sedikit ... waduh, panas. Temanku menertawakanku. Dia pun mengajariku untuk menikmati teh hangat ala angkringan. Dituangnya sedikit teh ke piring kecil sebagan nampan, ditiup-tiup sebentar, kemudian perlahan diminumnya sampai habis. Aku pun meniru caranya, dan ajaib ... sedikit panas pun tidak terasa, malah rasa manis-hangat mengalir dengan nyaman melewati tenggorokanku ...

Puas minum, aku lihat sate. Tapi karena aku tidak suka burung puyuh dan usus, aku pun menyudahi pesta angkring pertamaku.

Sejak itu aku ketagihan nangkring. Di sana selain bisa nikmati indahnya Jogjakarta di malam hari, aku juga bisa bergaul dengan masyarakat yang selama ini jauh dari jangkauanku, bisa memahami mereka, serta mengerti dan mengetahui indahnya dunia masyarakat yang selama ini suka dianggap remeh sebagian orang.

* * *

Istilah angkringan juga sering dipanggil nasi kucing. Aku tidak tahu asal mula kenapa dijuluki itu, namun mungkin karena isinya sedikit, trus lauknya adalah teri [kucing khan suka ikan/teri], makanya dinamakan itu ...

-Hendri Bun
bun.hendri@gmail.com
www.bunhendri.com

Galeri Foto: Menjadi Pengajar yang Kreatif di Era Digital


Dalam proses belajar-mengajar, peran seorang pengajar sangat penting. Pada satu sisi mereka telah memiliki kompetensi teknis yang tidak diragukan lagi. Sementara pada sisi lain, kompetensi mereka dalam hal delivery masih merupakan hal yang perlu dikembangkan terus menerus.

Sejumlah cara kreatif dalam mengajar perlu dirancang. Hal ini penting karena cara mengajar erat kaitannya dengan hasil. Dengan kata lain, para pengajar selalu ditantang untuk mampu berpikir kreatif dalam menyusun skenario dan metode mengajar. Tujuannya jelas. Mereka harus mampu membuat anak didik mereka untuk dapat menangkap materi yang disampaikan secara maksimal.

Bekerjasama dengan ALMIK, pelatihan “Menjadi Pengajar yang Kreatif di Era Digital” yang dihadiri guru dan dosen di bawah jaringan ALMIK ini didesain dengan tujuan meningkatkan kompetensi pengajar dalam hal delivery secara kreatif. Diharapkan lewat pelatihan ini, peserta terdorong untuk mempersiapkan diri dengan baik sebelum mengajar sehingga kelas yang mereka pandu bisa menyenangkan dan berdampak maksimal untuk anak didik mereka.




Thursday, March 1, 2018

Berpacu dengan Waktu!



Baru saya saya daratkan pantat saya di kursi kerja yang empuk. Sambil menyalakan laptop kerja, saya lirik kalender meja dengan pemandangan situs-situs wisata yang indah dan menggoda saya untuk mengunjunginya. Mata saya tertuju pada angka-angka yang ada di kalender itu, dan ... 


MARET!


Sebuah kata yang membuat saya tertegun sesaat dan merenung. Hari ini sudah masuk Maret, berarti saya sudah melewatkan waktu selama 2 bulan di tahun 2018 ini. Wow… cepat sekali waktu berlalu. Masih terekam dengan baik di memori saat saya dan keluarga melewati malam old and new bersama teman-teman gereja. Dengan penuh kegembiraan kami sharing kebaikan Tuhan selama tahun 2017, membuat resolusi 2018, dan diakhiri dengan menikmati indahnya pesta kembang api sebagai tanda suka cita menyambut datangnya 2018. Dan tidak terasa sudah lewat 2 bulan. Apakah teman juga merasakan hal yang sama?

Menilik akar kata dari waktu, ada 2 istilah yang sering dipakai, yaitu Kronos dan Kairos. Yang pertama, kronos, adalah waktu dalam pengertian membosankan, sedangkan yang kedua, kairos, adalah waktu sangat menggairahkan.


Melewatkan waktu secara kronos dapat dilakukan demikian. Coba pelototi jam tangan, kemudian ikutilah jarum ketiga yang dengan setia bergerak mengelilingi jam tersebut. Lakukanlah selama 10 menit. Bagaimana rasanya? Saya bisa memastikan jawabannya sama, membosankan. Itulah Kronos.

Akan lain perkara apabila kita [terutama kaum cowok], melewatkan malam dengan menonton sepak bola. Katakanlah ada partai big match antara Barca vs Madrid. Apakah waktu main selama 90 menit terasa membosankan? Hal yang sama dialami kaum cewek saat melewatkan waktu di depan TV yang dipenuhi berita-berita dan gosip para artis. Apakah membosankan? Jawabannya tentu tidak. Nah, momen-momen seperti itulah yang dinamakan kairos.

Jadi, adalah patut untuk dikasihani apabila kita terjebak dalam kronos. Dan sebaliknya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia bila hidup dalam dunia kairos. 

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya supaya bisa hidup se-kairos-kairos-nya? 

Pengalaman saya berbicara, milikilah sebuah target dan tujuan apa-apa saja yang harus dikerjakan dan diselesaikan, setiap hari. Kemudian tekunilah target tersebut dan nikmatilah proses-proses dalam mencapainya. Dalam setiap keadaan, berusahalah untuk menjadi insan yang kreatif. Jangan pernah membiarkan diri kita terlena dan mengganggur. Lantas cintailah apa yang bisa kita kerjakan sekarang, dan gumulilah itu. Niscaya kalau kita melakukan hal-hal demikian, maka kairos yang akan kita alami. Setuju? 

* * *

Kembali benak saya melayang menelusuri waktu yang sudah saya lalui selama 2 bulan ini. Timbul seberkas pertanyaan, apakah selama ini saya terjebak dengan fenomena kronos ataukah saya terseret dengan indahnya kairos? Bagaimana pula dengan Anda, kawan?

-Hendri Bun
bun.hendri@gmail.com

Radio Talk: Buying Shopping Disorder - Heartline Network

Radio talk perdana di tahun 2020. Mengambil tema Buying Shopping Disorder, 'kecanduan' belanja yang patut kita waspadai, terutama ba...