Monday, May 28, 2018

Galeri Foto: Two Days Public Course - Effective Presentation Skill

Senang mendapat kesempatan berbagi dengan teman-teman dari Bintang Toejoe, Badan Standarisasi Nasional, Astra Otoparts dan Multi Global Indonesia dalam pelatihan Effective Presentation Skill. Semoga sharing selama 2 hari ini bisa memberikan inspirasi dan menambah skill mereka dalam melakukan presentasi yang efektif dan berdampak tinggi. Yaksip!







Thursday, May 17, 2018

DARE to SPEAK!


"Saya suka cari aman dalam bersosialisasi. Intinya pas banget dengan ceritanya Mas Hendri. Cuma saya belum bisa berinisiatif untuk keluar dari zona nyaman. Saya tidak tahu bagaimana memulainya. Ada perasaan geli dan canggung kalau saya memaksakan diri untuk bersosialisasi dengan teman-teman atau orang sekitar. Mungkin mas bisa ngasih kesan awal-awal peralihan yang bisa mengubah pribadi seseorang dari introvert ke extrovert?"

Berikut isi surel -yang saya bahasakan ulang- dari salah satu sobat sebagai respon atas tulisan saya yang berjudul "Introvert yang Memberontak". Sebuah pertanyaan menarik yang mungkin muncul juga di batinku saat saya masih seorang introvert yang belum beradaptasi. Saya tidak tahu seberapa banyak sobat yang punya pertanyaan serupa. Kalau pun tidak ada, saya merasa harus menulis artikel ini -paling tidak- untuk menjawab surel-nya Bung R :)

Pertama, ijinkan saya untuk mengapresiasi Bung R atas niatnya (atau kalau boleh aku bilang keberaniannya) mengirim surel dan bertanya. Kenapa? Karena tindakan tersebut sudah merupakan modal yang berharga baginya untuk mulai membuka pintu bersosialisasi. Saya menduga ada sobat lain yang sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama -atau gak ada ya? Saya yang terlalu geer saja :)- tetapi mereka tidak berinisiatif melakukannya. Jadi kalau Bung R sudah meniatkan diri mengirimkan email, that's a great move to change. Karena ada teori yang mengatakan bahwa kalau kita ingin mengubah sesuatu (terlebih kebiasaaan), segala sesuatu harus dimulai dengan adanya niat (intensi). Setuju?

Selanjutnya setelah ada niat, apa yang bisa dilakukan? Jawabannya sederhana : SPEAK UP!

Sebuah niat atau tekad atau resolusi kalau tidak diekspresikan sama saja dengan tidak melakukan apa-apa. Setuju dengan pernyataan itu? Hal ini berlaku juga bagi seorang intorvert yang ingin beradaptasi ke arah ekstrovert. Memang benar kalau ada rasa enggan, malas, canggung, atau risih ketika kita melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita. Tapi kalau kita tidak memulainya, bisa dipastikan niat tersebut perlahan tapi pasti padam. Akhirnya perubahan tidak terjadi.

Kalau begitu, untuk melakukannya harus mulai dari mana?

Kalau saya boleh usul, mulai dengan perbanyak mengobrol dengan orang lain. Wah ... usul yang sepele bukan? Iya bagi mereka yang ekstrovert. Tetapi bagi introvert, mengobrol adalah sebuah kegiatan yang 'menakutkan'. Atau kalau aku perhalus bahasanya, mengajak orang lain mengobrol, apalagi dengan orang baru, bagi orang introvert adalah sebuah ketidaknyamanan.

Lantas, apakah ada tips untuk itu? Jawabannya pasti ada. Namun sebelum aku beberkan tipsnya, pernahkah sobat melihat atau berada dalam kondisi seperti ini?

Sebutlah ada dua orang yang baru berkenalan dalam suatu pertemuan. Setelah 'berkenalan' dengan menyebutkan sejumlah data utama seperti nama, tinggal di mana, kerja di mana, dll ... suasana tiba-tiba menjadi hening sehening-heningnya. Apa pasal? Yup. Mereka tidak tahu harus ngobrol apa lagi alias kehabisan bahan bicara. Alhasil keduanya akan sama-sama mengheningkan cipta sambil berharap lawan bicaranya mulai mengajukan topik bicara.

Nah, orang-orang seperti apakah yang sering mengalami kejadian di atas? Sepengamatan saya kebanyakan dari mereka adalah orang belakang layar (konteks perusahaan kami menyebutnya orang back office). Dan kalau menarik benang merahnya lebih jauh, tipe apakah mayoritas orang back office? Yup. Introvert.

Tempat saya bekerja mendesain satu program pelatihan komunikasi yang dibingkai dengan tema "DARE to SPEAK". Sasaran dari pelatihan ini adalah membantu orang yang menghadapi kendala dalam berkomunikasi untuk mahir berbicara dalam berbagai situasi sehingga mereka bisa diperhitungkan, baik dalam dunia kerja maupun sosial. Dasar pemikiran adanya program ini juga karena ada riset yang mengatakan bahwa kemajuan karir seseorang sangat ditentukan oleh seberapa luwes orang tersebut dalam berkomunikasi. Sehingga kalau berbicara training pengembangan diri, tema komunikasi adalah tema abadi yang dibutuhkan oleh banyak orang.

Nah, salah satu bagian yang dieksplore di awal-awal pelatihan adalah bagaimana berkenalan dengan orang baru. Tidak sebatas itu saja, pelatihan ini juga memberikan sejumlah tips untuk mampu mempertahankan pembicaraan sehingga suasana kaku dan canggung bisa diminimalisasi. Saya pikir tips ini akan berguna bagi orang introvert dalam melawan ketidaknyamanan mereka dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Pada kesempatan ini, ijinkan saya share 5 tips yang dianalogikan dengan simbol-simbol (dalam dunia training metode ini dikenal dengan Stacking). Siap untuk itu?

Pertama, bayangkan di lantai ada sebuah kartu nama raksasa ukuran 1x2 meter. Kemudian di atasnya diletakkan sebuah jam dinding ukuran jumbo. Lalu di atas jam dinding, letakkan sebuah meja kerja sehingga kaca jam dinding tersebut retak. Di pojok kiri meja letakkan sebuah gelas berisi es krim, dan di pojok kanan meja letakkan juga sebuah gelas berisi banyak lalat hijau.

Ok, sudah terbayang 5 benda tersebut? Mereka adalah simbol sejumlah hal yang bisa dipakai untuk mengobrol. Apa arti dari simbol-simbol tersebut?

Pertama: kartu nama. Artinya saat bersosialisasi dengan orang yang baru kita kenal, gunakanlah data-data yang ada di kartu nama sebagai bahan obrolan. Apakah saja yang ada di kartu nama? Tentu saja ada nama, kerja di mana, bagian apa, kantornya ada di mana, dll. Kalau konteks sobat yang belum bekerja, bisa menggantinya dengan kuliah di mana, ambil jurusan apa, kampusnya daerah mana, dll.

Kedua, jam dinding. Artinya carilah bahan obrolan yang berkaitan dengan waktu. Misalnya, sudah berapa lama kerja di Perusahaan A. Atau sudah berapa lama tinggal di kota B. Bisa juga sudah berapa lama pakai kacamata. Sudah berapa lama menikah. Sejak kapan menyukai pete? Sejak kapan ngefans sama MU? Dan banyak pertanyaan sudah berapa lama-sejak kapan lainnya. Jadi ingat jam dinding ingat obrolan berbasis waktu.

Ketiga, meja kerja. Artinya hubungkan hal-hal yang berkaitan dengan job desk sebagai bahan obrolan. Contohnya, seorang culture specialist itu kerjaannya apa sih? Atau kuliah di jurusan DKV itu belajar apa saja? Langkah-langkah apa saja yang dilakukan seorang analis kredit sehingga keluar hasilnya diapprove atau tidak aplikasi calon klien?

Keempat, gelas berisi es krim. Artinya kaitkan obrolan kita dengan hal-hal yang disukai. Es krim-es krim yang bisa diobrolkan bisa berupa hobi, makanan, film, tempat wisata, dll. Yakin deh, kalau ketemu hal-hal yang disukai, maka obrolan bisa menyerempet ke topik-topik lain.

Terakhir gelas berisi lalat hijau. Tentu selain hal yang disukai ada pula hal-hal yang tidak disukai oleh tiap orang. Apa saja topiknya? Sama saja dengan topik hal yang disukai. Bedanya cuma konteksnya saja.

Tentu saja ada syarat supaya obrolan bisa berjalan lancar. Syaratnya adalah harus ada tik-tok alias saling menimpali, bukan model satu arah ala interogasi. Dan yang lebih penting adalah lawan bicara mau diajak ngobrol. Jangan melihat lawan bicara kita sedang asyik baca buku, terus kita tanya-tanya terus. Bisa-bisa kita dijitak sama lawan bicara kita hehehe ...

Pertanyaan penutup. Apakah dalam memulai percakapan harus urut seperti simbol yang ada? Jawabannya tidak. Kalau kita sudah terbiasa, kita bisa masuk dari pintu mana saja. Jadi yang penting adalah latihan-latihan-latihan. Ala bisa karena biasa bukan?

Itulah sedikit share dari saya bagaimana proses aku mengalami peralihan dari introvert ke ekstrovert. Bagaimana dengan sobat? Punya pengalaman lain untuk ditambahkan?

-Hendri Bun
bun.hendri@gmail.com - www.bunhendri.com

Wednesday, May 2, 2018

Guruku




Dia perempuan, cantik, datang dari Jawa. Yang tidak bisa saya lupakan bukan karena cara mengajarnya, melainkan paras dan kelembutannya. Hahaha ... Saking sukanya sama dia, saya ingat pernah sengaja membuntutinya pulang sehabis ngajar. Tentu saja tidak sendiri, karena rupanya ada beberapa teman pria sekelas yang juga sama. Jadilah kita ramai-ramai, mengendap-endap, diam-diam mengikuti dia. Yah, namanya juga rencana bocah ingusan, ketahuan juga. Akhirnya kita malah diajak jalan bareng-bareng, diundang ke rumahnya... dan di situlah kisah ini berakhir karena dia rupanya sudah punya suami. Setelah kejadian itu, layaknya angin berhembus, lenyap juga rasa sukanya. Dan dia memang tidak lama mengajar kami, hanya setahun. Tapi ingatan ini membekas sampai sekarang...

* * *

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa tanda jasa karena kita tidak pernah memberikan tanda jasa, yang selalu disimbolkan dengan penyematan medali –meskipun sebagian ada yang memberikan kenang-kenangan dalam bentuk cincin, bingkai foto, dll---. Tanpa tanda jasa karena mereka tidak mengharapkan banyak dari anak didik mereka kecuali satu, anak-anak mereka menjadi pintar dan menjadi orang yang berguna di masyarakat. Tanpa tanda jasa karena mereka adalah orang yang paling berbahagia di balik kesuksesan anak didik mereka, dan tidak mengharapkan imbalan.

Itu idealisme sebenarnya dari seorang guru. Karena jiwa seorang guru haruslah begitu. Guru yang benar adalah guru yang mengharapkan anak didiknya menjadi lebih besar dari dia. Guru yang benar adalah guru yang selalu berpikir bagaimana caranya anak didiknya bisa cepat menyerap materi pelajaran yang diberikan. Guru yang benar adalah guru yang bangga dan senang melihat anak didiknya berhasil. Guru yang benar adalah guru yang serius mempersiapkan sejumlah aktivitas belajar supaya anak didiknya senang belajar.

Ada beberapa guru yang berkesan dalam hidup saya. Ada yang saya masih ingat namanya, tetapi ada juga yang saya sudah lupa. Salah satunya adalah guru Bahasa Indonesia waktu saya masih SD di Pemangkat, Kalimantan Barat seperti yang saya ceritakan di atas.

Guru lain yang berkesan adalah guru Matematika waktu SMP. Berkesan karena saya pernah ‘dihina’. Waktu itu saya pernah diminta untuk mengerjakan soal di depan kelas, tetapi gak bisa. Entah itu cara dia memotivasi atau apa, dia mulai membanding-bandingkan saya dengan kakak saya, yang kebetulan bintang kelas di SMA yang sama. Kata-katanya yang paling saya ingat adalah ‘benar kamu adiknya si A (nama kakak saya). Tapi kok beda ya, satu pintar satu bodoh’. Wuihhh... sejak itu saya ketertarikan saya dengan mata pelajaran Matematika pupus. Jadi selama SMP, hanya ada satu mata pelajaran saya yang nilainya pas-pasan, Matematika.

Di SMP juga ada guru yang bertolakbelakang dengan guru Matematika saya. Namanya Suster Valentine, mengajar Sejarah. Dengan caranya yang sangat kreatif, mengajar dengan metode bercerita, dia berhasil menarik minat saya untuk menghafal sejarah Republik Indonesia. Dari jaman kerajaan pertama sampai jaman peperangan. Cara dia menceritakan Ken Arok misalnya, begitu memikat sehingga saya bisa mengerjakan ujian tertulis esai dengan sempurna. Metode mengajar, iya, itu adalah cara untuk memotivasi anak didik yang bisa juga diterapkan untuk organisasi.

Pak Sakino, itu adalah guru Matematika di SMA yang mengembalikan minat saya akan pelajaran eksakta ini. Cara mengajarnya adalah dengan pendekatan bedah kasus. Ada soal, dia menerangkan logikanya di papan tulis. Kemudian bertahap dia memberikan tugas sekolah, dari soal yang paling mudah sampai sulit. Yang dia beberkan adalah logika, bukan hasil akhir. Bagi dia kalau kita sudah menemukan logika sebuah soal, dijamin sesulit apapun bisa dikerjakan. Hasilnya, di rapor selalu tertera nilai 9.

* * *

Mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, (Alm) Daoed Joesoef pernah mengatakan, di dunia ini hanya ada 2 profesi. Pertama adalah guru, dan kedua adalah bukan guru. Pernyataan ini ingin mengatakan bahwa setinggi apapun jabatan kita sekarang, sebesar apapun penghasilan kita saat ini, seluas apapun bisnis kita sekarang, janganlah pernah melupakan bahwa semua itu ada karena jasa seorang guru.

Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk semua guru yang sudah mendidik dan membentuk saya seperti sekarang ini, baik guru di sekolah formal maupun guru informal di dunia kerja. Kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kiranya Tuhan yang akan membalas semua kebaikan yang sudah diberikan kepada saya.

-Hendri Bun
bun.hendri@gmail.com; www.bunhendri.com

Radio Talk: Buying Shopping Disorder - Heartline Network

Radio talk perdana di tahun 2020. Mengambil tema Buying Shopping Disorder, 'kecanduan' belanja yang patut kita waspadai, terutama ba...