Wednesday, January 31, 2018

Ulang Tahun



Apa yang terbayang di kepala Anda kalau mendengar kata ULANG TAHUN? Yup... pasti tidak jauh-jauh dari yang namanya kado, usia bertambah, dan makan-makan. Setuju? Tetapi apakah hanya sebatas itu saja makna dari ulang tahun?

Waktu saya masih kecil, apabila ada anggota keluarga yang berulang tahun, bisa dipastikan hari itu akan tersaji menu makanan yang istimewa. Telur rebus berwarna merah, misoa [mian sian], tahu isi daging, kacang polong 'maling', dan tidak ketinggalan ayam goreng adalah menu wajib.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa ayam goreng digolongkan sebagai menu istimewa? Yup. Karena waktu saya masih kecil, yang namanya makan ayam adalah sangat jarang. Tidak seperti sekarang -terutama di kota-kota besar- menu ayam ada di mana-mana dan disajikan dengan berbagai macam ramuan yang mengundang selera. Di Pemangkat –kota kelahiran saya- hanya saat ada momen tertentu saja kita makan ayam, dan salah satunya adalah ulang tahun :)

Selain makanan, satu hidangan yang harus ada adalah kue ultah dengan jumlah lilin yang menunjukkan usia. Beda dengan sekarang di mana lilin sudah dalam bentuk huruf, sehingga kalau usia 8 tinggal pasang lilin dalam bentuk angka 8. Dulu tidak begitu. Sehingga kalau ada yang berulang tahun ke-8, maka lilin yang disiapkan adalah 8 batang dan harus ditiup sendiri hingga semua lilin padam. Jadi bisa dibayangkan seandainya yang berulang tahun usianya sudah kepala 2,3, atau 6. Kasihan kan he he ...

Tidak banyak kenangan berarti ketika saya melewati ulang tahun, termasuk ke-17 yang kata orang-orang harus dirayakan secara besar-besaran. Saya tidak pernah melakukan pesta ulang tahun dengan mengundang teman-teman, apa lagi mengadakan pesta di gedung-gedung atau tempat bergengsi lainnya. Bagi saya, kehadiran keluarga dan ucapan syukur karena bertambahnya usia dan kedewasaan sudah jauh dari cukup.

Momen ulang tahun biasanya saya habiskan dengan melakukan refleksi. Apa saja hal yang sudah saya capai dan lakukan sepanjang tahun. Tidak ketinggalan hal-hal apa yang menjadi target dan sasaran untuk saya gapai di tahun mendatang. Prinsip saya, tidaklah penting seberapa heboh, ramai, dan meriahnya sebuah ulang tahun dirayakan. Bagi saya, dari lubuk hati yang terdalam ada bisikan: terima kasih Tuhan untuk usia yang bertambah, karena saya tahu sebanyak itu juga pemeliharaan dan pimpinanMu yang nyata atas hidup saya.

Ajar aku Tuhan, untuk menghitung hari-hariku
sedemikian sehingga aku beroleh hati yang bijaksana
untuk melewati dan menggunakannya
dengan penuh tanggungjawab dan bermakna ...

* * *

31 Januari 1979, di sebuah rumah sakit kota Purwokerto, sepasang suami-istri sedang berbahagia karena dikarunia anak ke-2, putri pertama yang sehat dan kuat dari pernikahan mereka, yang kelak mereka namai Fransisca Widjaja.

Selamat ulang tahun, istriku ... Tuhan memberkatimu.


-Hendri Bun-

bun.hendri@gmail.com; www.bunhendri.com

Friday, January 19, 2018

Tolong... Emosi Saya Dibajak



Kisah ini terjadi waktu saya masih usia SD. Saya punya seorang adik yang nakal sekali. Nakalnya terutama dalam hal mainan, soalnya setiap kali saya punya mainan baru, pasti dia rusakin. Sebagai seorang kakak, saya yang sering diminta untuk mengalah, meskipun dalam hati tidak rela.

Suatu hari, sepulang dari pasar malam, saya dibelikan mainan berupa kapal-kapalan oleh ayah saya. Sebagai anak kecil, tentunya saya senang sekali. Karena hari sudah malam, jadi saya baru bisa memainkan kapal-kapalan tersebut keesokan harinya. Pagi-pagi saat saya terbangun, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari mainan baru saya. Namun saya tetap tidak bisa memainkannya karena saya harus berangkat sekolah. Sebelum berangkat, saya wanti-wanti adik saya untuk tidak menyentuh sama sekali mainan baru saya.

Sepanjang hari selama di sekolah, saya tidak bisa konsen karena membayangkan betapa menyenangkan dan gembiranya saya bermain dengan mainan baru saya. Wajar saja ya kalau mengingat bagaimana perasaan gak sabar dari seorang anak yang ingin segera memainkan mainan baru. Saya jadi tidak sabar untuk buru-buru pulang. Saat sekolah bubar, secepat kilat pun saya berlari menuju rumah.

Namun apa yang terjadi? Mainan saya rusak. Waktu itu saya marah besar. Dengan emosi saya pun cari adik saya, ingin rasanya memukul dia saat itu. Dan benar, saat melihat dia, dengan keras saya mendorong tubuh adik saya. Nah, tindakan penuh emosi tersebut tidak pernah akan saya lupakan. Mengapa? Karena begitu kerasnya saya mendorong adik saya, dia jatuh terjerembab dan kepalanya membentur pinggiran meja ... dan berdarah. Adik saya pun dibawa ke rumah sakit.

Efek dari tindakan saya ternyata jangka panjang. Karena kepala adik saya terbentur, dia mengalami gangguan permanen pada kepalanya sehingga mengalami kesulitan dalam banyak hal. Akibatnya sekarang, dia hanya bisa menjadi seorang satpam walaupun secara fisik adik saya itu gagah, besar, dan kekar. Mungkin karena faktor fisik tersebut yang menyelamatkan dia sehingga diterima di tempat kerjanya saat ini.

 * * *

Kisah di atas adalah kisah nyata yang saya dengar dari rekan saya. Sekeping cerita yang menunjukkan bahwa tindakan yang disertai emosi negatif sering berujung malapetaka. Banyak contoh lain yang serupa dengan mudah kita dapatkan. Dan penyesalan selalu datang belakangan. Saya yakin penyesalan yang mendalam pasti dialami oleh sang kakak dalam cerita di atas. Penyesalan yang akan dibawa sepanjang hidup. Tentunya kita tidak ingin mengalami hal yang sama bukan?

Kalau kita belajar tentang teori otak, bagaimana cara otak bekerja dalam merespon suatu stimulus/peristiwa, kita akan menemui istilah pembajakan emosi. Mari sedikit belajar tentang alur informasi dan cara kerjanya di otak yuk.

Saat sebuah informasi kita terima, normalnya adalah mampir dulu di Thalamus, bagian otak kecil yang berfungsi sebagai traffic informasi yang masuk tersebut akan diarahkan ke bagian otak yang mana. Kalau kita membedah otak kita, ada 3 bagian yang sering disebut sebagai lymbic system (otak yang mengatur motorik), neo cortex (bagian otak yang berpikir), dan amygdala (bagian otak yang menyimpan dan mengelola emosi, seperti takut, marah, curiga, dll).

Naturnya sistem kerja otak dari informasi/stimulus yang masuk sampai tindakan adalah sebagai berikut. Informasi masuk diterima oleh Thalamus. Kemudian Thalamus mengirim stimulus tersebut ke amygdala untuk mensortir emosi apa yang cocok dengan stimulus tersebut. Dari Amygdala emosi yang sudah jadi tersebut dilempar ke Neo Cortex sebagai dapur berpikir yang diteruskan ke lymbic system yang mengatur motorik apa yang harus dilakukan sebagai respon stimulus tersebut.

Contoh: ada informasi/stimulus berupa liburan yang mampir di Thalamus. Dari Thlamus stimulus tersebut langsung diteruskan ke Amygdala. Di Amygdala, informasi tersebut diproses dengan mencari referensi emosi yang sudah terekam sebelumnya. Ketemu, bahwa emosi yang harus menanggapi stimulus liburan adalah gembira. Emosi gembira tersebut diteruskan ke Neo Cortex, yang akan berpikir tindakan apa yang harus dilakukan kalau gembira. Setelah ketemu, bagian lymbic system yang memberi perintah kepada tubuh untuk mengekspresikan emosi gembira seperti tertawa, murah senyum, bersemangat, dan sejenisnya.

Sayangnya, jalur yang seharusnya itu tidak selalu dipatuhi. Ada satnya sebuah stimulus/informasi yang mampir dibajak langsung oleh amygdala sendiri --saya menyebutnya sebagai pembajakan emosi--. Ia tidak melaporkan stimulus tersebut ke neo cortex, tapi langsung memberikan instruksi ke lymbic system untuk bertindak. Itulah yang disebut sebagai amygdala hijack. Akibatnya, reaksi kita tidak jernih. Hasilnya adalah respon yang setelah kita melakukannya kita menyesalinya, seperti tindakan sang kakak dalam kisah di atas.

Padahal untuk menghindari kita bertindak ceroboh, salah satu saran yang bisa dilakukan adalah sekadar mengambil waktu sekitar 6 detik untuk berdiam diri. Waktu selama 6 detik tersebut bisa dipakai untuk mengambil nafas panjang, minum, bangun dari tempat duduk, atau melakukan kegiatan ringan lainnya. Tindakan tersebut kelihatan sederhana, tetapi diyakini mampu membuat kita berpikir lebih jernih sehingga tindakan yang kita ambil tidak ceroboh.

 1 ... 2 ... 3 ... 4 ... 5 ... 6 ... Done. Selama itulah waktu yang dibutuhkan untuk menetralisir emosi. Dan yang paling penting mampu menghindari kita dalam bertindak ceroboh yang ujungnya menimbulkan penyesalan.

Selain berdiam selama 6 detik, tentu banyak cara lain yang bisa kita gunakan. Tetapi tidak ada salahnya kita mencoba bukan? Tiap ada stimulus yang memancing kita untuk bertindak secara emosi negatif, berhitunglah selama 6 detik. Percayalah, waktu selama 6 detik akan membuat perbedaan.

Salam Yaksip!
bun.hendri@gmail.com
@hendribun

Monday, January 15, 2018

505 Game: Dinamika Kelompok, Aktivitas Luar dan Dalam Ruang untuk Membangun dan Membentuk Tim yang Solid



Secara natur (alamiah), manusia adalah mahluk bermain. Begitulah diungkapkan Johan Huizinga dalam bukunya yang berjudul “Homo Ludens” atau “Man the Player” di tahun 1938. Menurutnya, bermain adalah penting dan perlu bagi peradaban manusia.

Untuk membuktikan teorinya, Johan Huizinga mengajak kita melihat pada anak-anak. Sepanjang hari, dari mata mulai melek (terbuka) saat bangun tidur sampai mata terpejam saat tidur, kegiatan dominan yang dilakukan oleh anak-anak adalah bermain. Pada saat hendak atau sedang mandi, mereka menyisipkan kegiatan bermain. Demikian pula saat berpakaian, ada selingan bermain. Saat makan? Ya sambil bermain. Hingga saat ‘pup’ pun sering kali diselingi dengan aktivitas bermain.

Sayangnya natur ini secara perlahan namun pasti, kian terkikis seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Jadi, tidak heran bila kita jarang melihat orang dewasa bermain layaknya anak-anak. Beberapa hal yang sering kali diungkapkan sebagai alasan:
– orang dewasa itu harus serius, jadi tidak pantas lagi bermain
– ada rasa malu, risih, enggan, atau takut dikatai sebagai anak kecil
– bermain dianggap sebagai kegiatan yang sia-sia
– dll

Padahal banyak menfaat yang bisa kita peroleh dari aktivitas bermain, misalnya menjalin keakraban dan membangun tim yang solid, sembari melemaskan otot dan merilekskan otak. Selain itu, bermain juga dapat menjadi kesempatan untuk mencari keringat bagi orang dewasa yang jarang berolahraga dan bagi anak-anak masa kini yang hidupnya dikuasai oleh gawai (gadget).

Bermain juga sering kali menjadi salah satu kegiatan penting dalam pertemuan-pertemuan informal, semiformal, atau sejenis acara outbound. Di tengah seminar, pelatihan, atau workshop misalnya. Juga bisa di arisan ibu-ibu PKK, pertemuan RT-RW, tujuh-belasan, sampai acara-acara di sekolah atau kampus. Tujuannya jelas, untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan serta membangun semangat dan tim agar suasana pertemuan lebih segar, akrab, dan kerjasama kian solid.

Untuk mengupayakan hal tersebut di atas, kendala yang sering timbul adalah miskinnya ide atau variasi permainan. Akibatnya timbul rasa bosan yang berujung pada tidak tercapai tujuan semula. Untuk menjawab kebutuhan itulah buku ini dihadirkan. Dikumpulkan dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi sebagai pengelola lembaga pelatihan, sebanyak 505 permainan disajikan di dalam buku ini. Penyusun membaginya menjadi empat bagian besar: perkenalan, energizer, perlombaan, dan leteral.

Harapan atas buku ini sederhana saja, agar bermanfaat untuk memeriahkan suasana, menambah keceriaan, membangkitkan motivasi, memperkuat kerja sama tim, serta meningkatkan jumlah keringat dan menumbuhkan kembali natur kita sebagai manusia makhluk bermain.

Demikian, semoga berkenan.
-Hendri Bun (Penyusun)

Saturday, January 13, 2018

Introvert yang Memberontak


“Hen, kamu pilih mana. Lembur sampai jam 11 malam atau pergi meeting dengan klien?”

Seandainya pertanyaan di atas dilontarkan 8 tahun yang lalu, saya pasti memilih untuk lembur. Tetapi kalau dilontarkan detik ini juga, dengan mantap saya akan memilih meeting dengan klien.

Kenapa bisa begitu?

Aku adalah seorang introvert yang cenderung ekstrim. Jejak hidupku menceritakan hal tersebut. Waktu SMA aku mengambil jurusan A1 (Fisika) yang notebene banyak hitungan. Masuk kuliah, aku ambil komputer. Pekerjaan pertama? Tidak jauh-jauh. Dengan alasan idealis, aku menekuni pekerjaan yang berhubungan dengan komputer seperti programming, system, trouble shooter, dll. Bisa dikatakan, aku sangat menikmati percumbuanku dengan ‘mesin’.

Keseharianku juga mengisahkan hal yang sama. Aku lebih suka mengurung diri di kamar dari pada berha-hi-ha-hi dengan banyak orang. Ketika diajak untuk ikut kegiatan-kegiatan yang mengharuskan aku berinteraksi dengan banyak orang, aku cenderung menolak. Aku aman sekali dan merasa ‘hidup’ kalau sudah mengurung diri di kamar sambil membaca, merenung, otak-atik games, dkk. Jadi tidak heran saat aku diberi dua pilihan antara lembur dan meeting, aku akan memilih lembur?

Terus bagaimana ceritanya kalau sekarang aku bisa lebih memilih ketemu orang? Kuncinya satu: adaptasi.

Sering aku saksikan kepada orang bahwa aku termasuk beruntung bergabung sebagai orang IT di perusahaan jasa pelatihan (training provider). Tugasku di sana selain merapikan sistem, aku juga mendapat mandat untuk mengembangkan materi pelatihan (research and development). Karena tugas itu, mau gak mau aku harus sering mampir di kelas-kelas pelatihan kalau-kalau ada development yang bisa dilakukan untuk materi pelatihan yang dibawakan.

Awal ketika diminta untuk hadir di kelas, bisa ditebak. Sepanjang hari aku mencari aman dengan berlindung di balik laptop, di kursi paling pojok belakang. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak -panggilan alam ke toilet- aku tidak akan beranjak. Menyapa orang? boro-boro. Nikmati snack waktu coffee break pun dilakukan secara senyap.

Lama kelamaan seiring berjalannya waktu, aku mencoba keluar dari sangkar amanku. Aku pun mulai membuka diri, belajar menyapa orang, mengajak bicara, ikut dalam diskusi. Aha! Aku merasa pengalaman yang berbeda. Mataku dibukakan bahwa berkomunikasi dengan orang lebih asyik dari pada memacari mesin. Sejak itu aku pun MEMUTUSKAN untuk belajar berkomunikasi dengan orang.

Ala bisa karena biasa. Pepatah itu terjadi bagiku. Seiring waktu aku pun berhasil keluar dari tempurung introvertku. Jadilah diriku seperti sekarang ini. Pribadi yang dikenal orang lain mudah dalam bersosialisasi.

Kalau ditanya, apakah aku meninggalkan kecenderunganku yang introvert? Jawabannya TIDAK. Aku tetap seorang introvert. Bedanya adalah sekarang aku bisa (kalau tidak mau bilang cerdas) menempatkan diriku sesuai dengan peran. Kalau aku ada dalam suasana dan kondisi yang menuntutku untuk memainkan peran ektrovert, aku bisa. Tetapi kalau harus re-charge energiku, aku adalah introvert.

* * *

Istilah introvert-ekstrovert dekat sekali dengan MBTI. Singkatan dari Myers-Briggs Type Indicator, MBTI adalah alat tes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan. Dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya Isabel Briggs Myers pada sejak 1940, alat ini dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat, dan tipe kepribadian seseorang. MBTI merupakan instrumen yang paling banyak digunakan, telah diperbarui dan divalidasi secara ketat selama lebih dari tujuh puluh tahun. Yang unik, MBTI adalah salah satu alat tes yang bisa dipakai oleh orang non-psikologi.

Dalam tes MBTI, ada 4 dimensi kecenderungan sifat dasar manusia yang diukur.
(1) Dimensi pemusatan perhatian (sumber energi): Introvert (I) vs. Ekstrovert (E)
(2) Dimensi memahami informasi dari luar : Sensing (S) vs. Intuition (N)
(3) Dimensi menarik kesimpulan dan keputusan : Thinking (T) vs. Feeling (F)
 (4) Dimensi pola hidup : Judging (J) vs. Perceiving (P)

Hasil dari tes MBTI adalah 16 tipe kepribadian manusia yang merupakan kombinasi dari 4 dimensi di atas. (untuk mengeksplorasi MBTI lebih lengkap, bisa baca di https://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator)

Tahun 2007 aku mengambil program training for trainer MBTI. Terus terang, waktu aku ikut kelas tersebut, aku gak tahu apa itu MBTI, apa manfaatnya, bisa diaplikasikan untuk apa, dsb. Aku hadir di sana hanya karena direkomendasi oleh salah satu mentorku yang mengatakan bahwa program ini bagus.

Hasilnya? Aku jadi mengerti aku masuk tipe apa. Sebatas itu saja. Karena program yang aku ambil adalah program untuk menjadi trainer MBTI, aku juga dibekali sejumlah tools yang bisa aku pakai kalau-kalau aku mau membuka kelas training berbasis MBTI. Tetapi apakah aku melakukannya? Jelas TIDAK, karena waktu itu aku masih sangat introvert. Semua tools yang aku dapat hanya tersimpan rapi di arsip komputerku.

Seiring waktu, kala interaksiku dengan orang semakin intens, aku pun menyadari sangat penting bagiku untuk mengenal diriku sendiri sebelum aku memahami orang lain. Eksplorasiku lebih lanjut mengatakan MBTI adalah tools yang ampuh. Dengan tahu benar kita memiliki kecenderungan apa, kita bisa bertindak dengan proper. Tantangannya adalah kita kemampuan kita untuk beradaptasi sesuai dengan tuntutan lingkungan/pekerjaan. Dan kisahku di atas adalah salah satu contoh adaptasi yang berhasil.

Tentu masih banyak manfaat lain dari memahami MBTI. Dan introvert-ekstrovert hanya 1 dimensi dari 4 dimensi dalam MBTI. Jadi PRku adalah menuturkan 3 dimensi lainnya. Sebagai penutup, apakah ada di antara kawan yang mau menceritakan pengalaman serupa? Share ya.

Salam Yaksip!
bun.hendri@gmail.com
@hendribun

Radio Talk: Buying Shopping Disorder - Heartline Network

Radio talk perdana di tahun 2020. Mengambil tema Buying Shopping Disorder, 'kecanduan' belanja yang patut kita waspadai, terutama ba...