Skip to main content

Galeri Foto: Seminar Menjadi Administrator Profesional di Era Digital - UBSI


Bersyukur kembali mendapat kesempatan menyemangati adik-adik Universitas Bina Sarana Informatika Prodi Administrasi Perkantoran supaya mereka bisa menjadi tenaga kerja yang profesional di era digital.


Seminar dilakukan dua sesi, pagi dan sore dengan tiap sesi dihadiri sekitar 200 mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa semester pertama sehingga bekal ini sangat pas, yang saya umpamakan sebagai membangun fondasi.


Selain saya, ada juga sharing dari alumni BSI yang sekarang sudah bekerja. Semangat!



Apabila kampus Anda memerlukan sharing serupa, silakan kontak saya di WA 0815.8963.889
.
#MitraPembelajar
#UBSI
#Revolusi4
#RespondingChange
#HendriBun

Comments

Popular posts from this blog

Millenials Series: Deal with Millenials

Salah satu ciri khas generasi milenial (kelahiran 1986-2000) adalah kelekatan mereka dengan dunia digital. Mengutip rilis survei Hootsuite We Are Social (www.wearesocial.com) bulan Januari 2018, jumlah pengguna aktif social media di Indonesia adalah 130 juta orang, 49% dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta orang. Angka ini meningkat sebanyak 23% (24 juta orang) dibandingkan data bulan Januari 2017. Satu hal yang menarik dari survei tersebut adalah populasi generasi milenial memimpin dalam hal pengguna aktif social media dengan prosentase mendekati 65%.

Jadi tidaklah mengherankan kalau fenomena ini digarap habis-habisan secara bisnis. Produsen smartphone berlomba-lomba menciptakan produk yang memanjakan mereka baik secara fitur maupun harga. Tempat-tempat wisata juga tidak mau kalah dengan dengan menyediakan spot foto yang 'wah'. Wifi gratis bertebaran di mana-mana. Termasuk di dalamnya tempat makan, mal, dan aneka public area didesain untuk memenuhi keinginan dan …

Tolong... Emosi Saya Dibajak

Kisah ini terjadi waktu saya masih usia SD. Saya punya seorang adik yang nakal sekali. Nakalnya terutama dalam hal mainan, soalnya setiap kali saya punya mainan baru, pasti dia rusakin. Sebagai seorang kakak, saya yang sering diminta untuk mengalah, meskipun dalam hati tidak rela.

Suatu hari, sepulang dari pasar malam, saya dibelikan mainan berupa kapal-kapalan oleh ayah saya. Sebagai anak kecil, tentunya saya senang sekali. Karena hari sudah malam, jadi saya baru bisa memainkan kapal-kapalan tersebut keesokan harinya. Pagi-pagi saat saya terbangun, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari mainan baru saya. Namun saya tetap tidak bisa memainkannya karena saya harus berangkat sekolah. Sebelum berangkat, saya wanti-wanti adik saya untuk tidak menyentuh sama sekali mainan baru saya.

Sepanjang hari selama di sekolah, saya tidak bisa konsen karena membayangkan betapa menyenangkan dan gembiranya saya bermain dengan mainan baru saya. Wajar saja ya kalau mengingat bagaimana p…

Guruku

Dia perempuan, cantik, datang dari Jawa. Yang tidak bisa saya lupakan bukan karena cara mengajarnya, melainkan paras dan kelembutannya. Hahaha ... Saking sukanya sama dia, saya ingat pernah sengaja membuntutinya pulang sehabis ngajar. Tentu saja tidak sendiri, karena rupanya ada beberapa teman pria sekelas yang juga sama. Jadilah kita ramai-ramai, mengendap-endap, diam-diam mengikuti dia. Yah, namanya juga rencana bocah ingusan, ketahuan juga. Akhirnya kita malah diajak jalan bareng-bareng, diundang ke rumahnya... dan di situlah kisah ini berakhir karena dia rupanya sudah punya suami. Setelah kejadian itu, layaknya angin berhembus, lenyap juga rasa sukanya. Dan dia memang tidak lama mengajar kami, hanya setahun. Tapi ingatan ini membekas sampai sekarang...

* * *

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa tanda jasa karena kita tidak pernah memberikan tanda jasa, yang selalu disimbolkan dengan penyematan medali –meskipun sebagian ada yang memberikan kenang-kenangan dalam bentuk cincin…